Kamis, 27 November 2008

Life Style Effect

   
Pemikiran yang belum terlalu matang telah dikarbit oleh paham – paham modernisme yang berkutat dalam imajinasi seseorang. Belum lagi di tambah dengan faktor yang di luar pemikiran kita. Kasus – kasus di jaman sekarang ini layaknya menjadi tren yang merambah di kaum hawa maupun adam. Adanya seks bebas yang katanya melandaskan persahabatan dan cinta sesaat bagai serigala berbulu domba. Gaya hidup yang bebas belum tentu bebas dari segala tirani hati yang mencekam dimana mereka mengagungkan kebebasan individu yang layaknya hewan – hewan yang bebas berkeliaran di hutan raya.
Apakah mereka masih belum belajar dari pelajaran – pelajaran yang telah terpapar jelas di masa kelam dulu, masa – masa nenek moyang kita? Mereka yang melabelkan dirinya sebagai makhluk modernitas dan orang beradab, sekarang hampir mirip onggokan daging busuk yang menghadapi kehancurannya sendiri. Alasan mereka buat sedemikian rupa yang mengatasnamakan untuk kepentingan bersama hanya sebuah kamuflase diri.
Ini bukan masalah sepele kawan. Lihatlah banyak pasangan yang tak ingin mempunyai keturunan hanya melarikan diri dari kewajiban mereka dan membuat banyak alasan yang tak berarti. Mereka beranggapan bahwa mempunyai anak adalah beban terberat bagi mereka, mereka egois! Keegoisan yang tak beralasan dan malah terlihat kekanak – kanakan.
Banyak negara modern telah di pusingkan oleh masalah gaya hidup rakyatnya keluar rel dari yang seharusnya. Jepang, Eropa dan negara yang maju lainya mengkhawatirkan rakyatnya akan punah dalam beberapa puluh tahun kedepan dan di susupi oleh genereasi orang luar. Bisa di bayangkan dimana penduduk pribumi akan menjadi makhluk langka di tanah kelahirannya sendiri seperti halnya suku aborigin dan indian.
Hal itu menjadi lelucon yang akan membuat senyum kecut. Belum ditambah lagi dengan gaya hidup yang tidak sehat. Makan yang berlebihan dan tidak memperhatikan kandungan dan apa yang di perlukan tubuh mereka. Mereka hanya mementingkan emosi nafsu makan yang di landasi oleh harga diri. Kenapa harus meracuni tubuh mereka sendiri? meminum racun dengan sukacita? Manusia ternyata lebih pintar akan melakukan hal kebodohan yang jelas – jelas mereka sadari.
Sungguh sangat ironis kehidupan jaman ini. Kematian pada usia produktif membuat bergesernya garis usia manusia dari grafik kehidupan maka hampir dipastikan beberapa abad kemudian umur manusia tidak akan sampai pada umur 40 tahun dan bersiap – siaplah untuk menghadapi kepunahan. Mungkin 100 abad kedepan di toserba dekat pasar akan di jubeli oleh kecoa – kecoa yang berdiri menenteng alat komunikasi dan beberapa barang belanjaan. Bukan di pungkiri bahwa organisme yang bernama insecta tersebut pernah merajai di dunia ini. Dan bahkan organisme yang dari sebagian masyarakat dianggap hama atau hewan yang kotor itu bisa beradaptasi dengan radiasi nuklir!
Sedangkan kita makhluk homo sapiens yang katanya makhluk yang sempurna di muka bumi ini bisa meregang nyawa bila terkena kanker ataupun tumor. Jangan pernah terpengaruh dengan arus filosofi modern yang menyesatkan.

Rabu, 26 November 2008

Engine Fatality

Ada beberapa kemungkinan di dunia ini yang dapat di peroleh dari suatu benda yang bernama mesin oleh suatu bangsa yaitu sebuah kemakmuran dan kehancuran ekosistemnya. Dimana kita telah diperbudak oleh mesin – mesin yang tak mempunyai perasaan dan hati. Benda metal yang hanya berisikan dengan gir, rantai, oli, dan digerakkan oleh isi perut bumi yang kita butuhkan. Masyarakat kiat beranggap bahwa mesin – mesin itu lah yang akan meningkatkan nilai martabat dan harga diri mereka.

Tapi mereka hanya terbuai oleh impian – impian yang dibuat sedemikian rupa oleh sang mesin dan sang penciptanya. Mereka tidak menyadari bahwa mereka diperbudak oleh mesin – mesin yang tak pernah tidur walau siang dan malam. Kenapa dengan masyarakat bangsa ini? apakah mereka belum cukup pintar untuk mengetahuinya? Dan apa akibatnya bila terlampau jauh tergantung dengan mesin? Memang mesin seperti halnya pisau bermata dua bagi kita, salah satu ujungnya dapat membantu untuk memperluas ruang gerak kita dan yang salah satu ujungnya pun dapat membuat kita semakin terperosok dalam ketergantungan tanpa ujung.

Coba kita mencontoh dari bangsa lain yang lebih mengerti misalnya bangsa Cina dan Jepang. Mereka terlalu pintar untuk di bodohi oleh mesin – mesin tersebut, bukannya mereka di perbudak oleh mesin melainkan memperbudak mesin itu sendiri. Jepang dan Cina adalah contoh konkrit dalam masalah ini, bukannya penulis mengagung-agungkan bangsa Jepang ataupun Cina tapi mencoba untuk mencontoh kepintaraannya selama ini. Semua orang tahu bahwa mereka adalah produsen mesin dan teknologi untuk masa ini. Cobalah tengok disana mereka tidak diperbudak oleh yang namanya mesin-mesin dalam keseharian mereka. Kita sebenarnya sudah mengerti dan tahu akan konstribusi mesin dalam segala bentuk keseharian umat manusia sekarang ini. Namun bila di timang – timang ternyata lebih timpang ke nilai minus untuk kita sendiri.

Mesin bagaikan bumerang buat kita sendiri. Bayangkan semua hal yang terjadi di hadapan kita saat ini, global warming, lelehnya es kutub, labilnya cuaca sekitar, gundul – gundulnya paru – paru dunia yang akan menghasilkan banjir dan tanah longsor, semakin menipisnya lapisan atmosfer, meningkatnya kadar racun karbondioksida di udara bebas karena keegosisan manusia memakai mesin secara berlebih – lebihan. Awal untuk semuanya adalah kembali berpikir logis untuk masa depan umat kita dan konstribusi untuk menyelamatkan dunia ini, dunia ini terlalu letih untuk kita pijaki kawan..... dunia tak mampu untuk menetralkan apa yang kita perbuat selain kita sendiri.

Mulai sekarang pakailah angkutan umum atau bersepedalah menuju tempat kerja selama itu bisa dilakukan. Jangan malu untuk memakai angkutan publik tapi malu lah memakai mobil atau motor yang keren itu. Selain dapat menyehatkan kenapa tidak?! toh masyarakat jaman sekarang lebih sakit jasmaninya karena menuruti cara gaya hidup yang sembrono. Sehat itu mahal dan lebih mahal sehatnya dunia kita.



Selasa, 25 November 2008

Cukup Sekali Untuk Menangis



Menangis adalah sebuah anugerah yang salah satu kita miliki dari beberapa  anugerah yang kita miliki meski  kita kadang lupa akan anugerah - anugerah yang kita miliki. Seorang yang terlihat macho dihadapan wanita maupun di khalayak umum belum tentu macho di hatinya, mungkin saja hatinya meradang dan tertatih -  tatih jangan sampai hal itu terjadi pada kalian.
Jangan tahan air mata yang sedang banjir di hati meski malu untuk membukanya biarlah mereka mengalir...... bila memang perlu menangis dan teriak !!! lepaskan semua gundah di hatimu.  Malu?? malu pada siapa?? pada mereka yang tertawa didepanmu? carilah  tempat yang cukup sepi untuk melepaskannya bila memang anda seorang yang pemalu.
Menangis bukanlah cengeng untuk kalian yang bernama pria. Memang kadang masalah yang terlalu perih bisa di obati dengan menangis, tapi cukup sekali saja untuk menangis, menangislah sampai kantung air matamu habis. Sehingga esoknya tidak ada lagi air mata untuk masalah yang kau hadapi. Tangisan pertama adalah obat untuk hatimu dan tangisan yang kedua adalah racun bagi perasaanmu.

Senin, 24 November 2008

Terhempas Dalam Emosi


Dalam sebuah kehidupan yang dijalani oleh semua umat yang berjenis homo sapiens atau yang bernama manusia ini. Pada saatnya akan mendapatkan ganjalan dalam kehidupannya masing-masing. Kadang kala saat kita marah, suka, duka, menangis semua adalah emosi yang diciptakan oleh suatu bentuk cermin diri yang diproses melalui sebuah benda yang bernama otak. Sebuah jendela yang kasat mata terdapat di dahi kita masing-masing insan dan sebuah kaca kehidupan yang tercermin pada mata kita.
Mengendalikan emosi yang sesaat membludak dalam hati dan diproses ke otak kita, entah bagaimana kita bisa mengekspresikan sebuah moment yang menyedihkan, yang menyenangkan, yang memuakkan dalam sebuah perilaku dasar manusia. Seorang manusia yang dapat mengatur emosi yang meluap-luap, merekalah yang berhasil dalam menhadapi kehidupannya. Menerka-nerka apakah perlu untuk di perlihatkan atau di pendam untuk sesaat. Ini sama halnya dengan memanipulasi kerja otak dan hati yang hasilnya akan memanipulasi ekspresi kita. Tegar pada saat yang dibutuhkan, sedih pada saat yang tepat.
Sempat saya sebagai penulis yang mencoba dan hasilnya menjadi orang yang bisa mengatur emosi. Tapi jangan sampai salah kaprah seperti halnya pada saat di putus pacar maka kita tertawa atau halnya pada saat menonton komedi kita menangis. Walla!!! jadilah kita menjadi sesosok yang muskil dan dekil, orang gila. hm..... [option in ur hand now]

ShoutMix chat widget