Sabtu, 25 September 2010

Gadis Pertama

 
Aku masih ingat saat itu, saat yang membuatku tersenyum simpul sesaat. Kenangan yang masih terasa segar di memori  tua ku ini. Kurang lebih di Surabaya antara tahun 1992-1993, saat tingkat edukatifku bertaraf Sekolah Dasar. Masih hijau akan romantika, anggap lah itu romantika pertamaku. “Dia” adalah pujaan hati setiap siswa di Sekolah Dasar Sukorejo 01 kira-kira begitu. “Dia” putri bungsu dari seorang bapak-bapak yang menjabat sebagai Ketua RT . “Dia” begitu jangkung untuk anak sebayanya, rambutnya hitam kelam dan berponi kadang pun di kuncir manis.
Jujur saja untuk seumur jagung seperti aku belum mengenal istilah cantik, namun saat aku berinteraksi dengannya terasa jelas wajahnya merona indah di mata ku. Setiap hari aku selalu pulang bersama-sama dengannya meski rumah ku saat itu berlainan arah dengan rumahnya, jadi setiap hari aku selalu berkorban untuk berjalan pulang lebih jauh dari rumah ku sendiri. Hanya untuk ngobrol dan bercanda dengannya, kami begitu akrab satu sama lain.
Walau aku jarang main ke rumahnya dan cuma mengantar sampai 1 blok dari rumahnya. Entah kenapa setiap hari berangkat sekolah hanya bel pulang saja yang selalu kutunggu – tunggu. Pada saat “Dia” bergurau dengan teman sebayanya di kelas, di kantin, di taman. Ku selalu memperhatikan tiap detil ekspresi wajahnya. Karena aku tahu bahwa “Dia” mempunyai senyum yang teramat manis untuk seumurnya. Kadang aku berjalan – jalan di sekitar lingkungan rumahnya, pada hal rumahku dan rumah nya amatlah jauh hingga kaki ini terasa perih tetapi apalah daya rasa ingin ku bertemu walau melihat saja amatlah kuat di dada ini.
Perasaan itu berjalan seiring waktu berlalu sampai saat kelas 5 Sekolah Dasar. Berita kecewa, itulah istilah yang kubuat sendiri. Berita kepindahanku ke kota lain membuatku menyesal tuk mengenalnya. Ingin rasanya hari-hari terakhir sekolah ku buat melambat dan berhenti hanya tuk melihatnya lagi. Murung ku selalu. Truck yang mengangkut segala perabotan rumah pun sudah berjalan menuju rumah baru di kota baru, mendahului beberapa hari. Rumah ku pun kosong dan hanya ada perabotan seperlunya saja, rumahku terlihat kosong seperti dada ini. Kosong tapi membara.
Mobil hijau pun telah siap menanti tuk berangkat, langkah gontai pun membawaku ke padanya. Tiap detik tiap menit aku menatap jendela mobil saat mendekati pertigaan dekat rumahnya, berharap tuk melihat “Dia” tuk terakhirnya. Lama terasa amat lama menit itu membuatku mengutuk waktu. Akhirnya ku melihat sepeda yang kukenali saat kita bersepeda bersamanya. Itu miliknya!. Kepalaku  keluar dari jendela, “Dia” di sana dan kami saling beradu pandang meski di pisahkan jarak dan kecepatan.
Kami berdialog tanpa kata dan suara hanya dengan media mata kami. Ku tarik lagi kata-kata ku tentang waktu. Tiap detik ku coba membangun memori tentang mata, hidung, wajah, bibir miliknya. Tentang senyumnya, tentang tangisnya, tentang emosinya. Segalanya ku bangun menjadi satu memori kecil dan utuh di memori terdalam di otak yang kecil ini. Hanya senyum getir yang ia berikan tuk terakhir kalinya. Murung dan tak terasa air mata ini mengalir hingga terasa kantuk di perjalanan ku. Saat akan terlelap, aku berkata di dadaku “ Semoga kita akan bertemu lagi saat kita dewasa nanti, semoga……..”

Tidak ada komentar:


ShoutMix chat widget